Dialog Seri 4: 3
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT sudah mengetahui Iblis akan mendurhakai-Nya dan menyesatkan manusia?”
Mudariszi: “Allah SWT telah mengetahui hal tersebut, dan karena itulah Dia menjelaskan kepada malaikat yang tidak menyetujui penciptaan manusia, sebagai berikut:
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Al Baqarah 30)
Allah SWT mengetahui sifat dan tujuan Iblis yang sebenarnya. Allah SWT lalu membuktikannya dengan Dia menciptakan manusia. Bersamaan dengan itu pula, Allah SWT berkehendak untuk memberitahukan kepada manusia tentang Iblis yang merupakan musuhnya agar manusia berhati-hati terhadap Iblis (syaitan) ketika menjalani hidupnya sebagai khalifah di muka bumi (di dunia) atau ketika melaksanakan amanah yang telah bersedia dipikulnya, seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia. (Al Ahzab 72)
Kekafiran Iblis terhadap Allah SWT itu tidak akan mendatangkan mudarat apapun bagi-Nya, tapi kekafiran Iblis itu justru akan mendatangkan azab baginya. Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya orang-orang yang menukar iman dengan kekafiran, sekali-kali mereka tidak akan dapat memberi mudarat kepada Allah sedikit pun; dan bagi mereka azab yang pedih. (Ali ‘Imran 177)
Tilmidzi: “Mengapa Allah SWT mengabulkan permintaan Iblis yang ingin agar kematiannya ditangguhkan hingga kiamat karena ingin menyesatkan manusia?”
Mudariszi: “Karena Allah SWT melahirkan manusia hingga kiamat. Manusia adalah makhluk terakhir yang diciptakan oleh Allah SWT di semesta alam dan yang ditempatkan-Nya di bumi. Di masa manusia itu terjadinya kiamat. Allah SWT berfirman:
Mereka tidak menunggu melainkan satu teriakan saja yang akan membinasakan mereka ketika mereka sedang bertengkar. Lalu mereka tidak kuasa membuat suatu wasiat pun dan tidak (pula) dapat kembali kepada keluarganya. (Yaasiin 49-50)
(Ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat keguncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi azab Allah itu sangat keras.(Al Hajj 2)
Karena itu, Iblis yang ingin menyesatkan manusia hingga kiamat dan meminta agar kematiannya ditangguhkan hingga kiamat, lalu dikabulkan oleh Allah SWT, yaitu ditangguhkan hingga ke waktu yang Dia tetapkan sebelum terjadi kiamat.”
Tilmidzi: “Bukankah dengan adanya tujuan Iblis itu membuat manusia mendapat rintangan dalam melaksanakan amanah?”
Mudariszi: “Ya! Dengan adanya tujuan Iblis itu, maka manusia mendapat rintangan dalam melaksanakan amanah. Contoh, Allah SWT menghendaki manusia melaksanakan amanah dengan mengikuti peraturan (syariat) agama-Nya atau jalan-Nya yang lurus. Allah SWT berfirman:
Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. (Al Jaatsiyah 18)
Tapi Iblis menghalang-halangi manusia dari mengikuti agama-Nya atau jalan-Nya yang lurus agar mereka tersesat. Allah SWT berfirman:
Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (Al A’raaf 16-17)
Jika manusia tidak mengikuti agama-Nya atau jalan-Nya, berarti dia mendurhakai-Nya karena mendurhakai perintah-Nya dalam agama-Nya. Itu berarti manusia menjadi tidak berbeda dengan Iblis, yaitu kafir kepada-Nya, sehingga manusia itu menjadi sesat. Dengan demikian, tujuan Iblis itu memang menjadi rintangan atau ujian bagi manusia ketika melaksanakan amanah sebagai khalifah di bumi (atau menjalani hidupnya di dunia).”
Tilmidzi: “Apakah orang-orang yang tersesat (menjadi kafir) karena Iblis itu lalu menjadi pengikut Iblis yang juga akan menyesatkan manusia?”
Mudariszi: “Iblis tidak mungkin menyesatkan manusia hingga kiamat dengan seorang diri. Iblis akan menyesatkan jin dan manusia yang kemudian jin dan manusia yang tersesat itu menjadi pembantu Iblis dalam menyesatkan manusia. Pembantu-pembantu Iblis itulah pengikut-pengikut Iblis dan mereka itulah musuh-musuh manusia. Mereka tidak berbeda dengan Iblis karena durhaka dan kafir kepada Allah SWT, dan mereka merupakan syaitan seperti Iblis, yaitu syaitan dari golongan jin dan dari golongan manusia. Allah SWT berfirman:
Syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin. (Al An’aam 112)
Dan karena itu Allah SWT lalu memperingatkan manusia melalui firman-Nya ini:
Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah Iblis itu sebagai pengganti (Allah) bagi orang-orang yang zalim. (Al Kahfi 50)
Dan tidaklah Aku mengambil orang-orang yang menyesatkan itu sebagai penolong. (Al Kahfi 51)
Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman. (Al A’raaf 27)
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT menjaga dan melindungi manusia dari Iblis dan syaitan-syaitan pengikut Iblis?”
Mudariszi: “Ya! Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Allah berfirman: “Ini adalah jalan yang lurus, kewajiban Aku-lah (menjaganya). Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikut kamu, yaitu orang-orang yang sesat.” (Al Hijr 41-42)
Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa Dia menjaga orang-orang yang mengikuti-Nya hingga mereka tidak dapat disesatkan oleh Iblis dan oleh syaitan-syaitan pengikut Iblis. Tapi Allah SWT tidak menjaga orang-orang yang mengikuti Iblis karena mereka sendiri yang tidak mau dijaga oleh-Nya dan mereka sendiri yang tidak mau mengikuti-Nya. Dan Allah SWT telah menetapkan keputusan-Nya bagi Iblis dan para pengikut Iblis, yaitu akan menjadi penghuni neraka dalam kehidupan akhirat. Allah SWT berfirman:
Tuhan berfirman: “Pergilah, barangsiapa di antara mereka yang mengikuti kamu, maka sesungguhnya neraka Jahannam adalah balasanmu semua, sebagai suatu pembalasan yang cukup. Dan hasunglah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan oleh syaitan kepada mereka melainkan tipuan belaka. Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, kamu tidak dapat berkuasa atas mereka. Dan cukuplah Tuhanmu sebagai Penjaga.” (Al Israa’ 63-65)
Allah berfirman: “Maka yang benar (adalah sumpah-Ku) dan hanya kebenaran itulah yang Ku-katakan.” Sesungguhnya Aku pasti akan memenuhi neraka Jahannam dengan jenis kamu dan dengan orang-orang yang mengikuti kamu di antara mereka kesemuanya. (Shaad 84-85)
Tilmidzi: “Bagaimana Allah SWT menjaga manusia dari Iblis dan syaitan-syaitan pengikut Iblis?”
Mudariszi: “Salah satu Allah SWT menjaga dan melidungi manusia dari kejahatan Iblis dan syaitan-syaitan, yaitu dengan Dia memberikan ayat-ayat-Nya kepada manusia yang diturunkan kepada Rasul-Rasul-Nya. Ayat-ayat-Nya tersebut menjelaskan tentang Dia, agama-Nya dan jalan-Nya yang lurus, tentang syaitan dengan jalan-jalannya yang menuju kepada kejahatan, tentang kehidupan dunia dan kehidupan akhirat. Allah SWT memerintahkan manusia untuk mengikuti ayat-ayat-Nya dan Rasul-Rasul-Nya agar selamat ketika melaksanakan amanah (menjalani hidup) di dunia dan selamat di akhirat. Allah SWT berfirman:
Hai anak-anak Adam, jika datang kepadamu Rasul-Rasul daripada kamu yang menceritakan kepadamu ayat-ayat-Ku, maka barangsiapa yang bertakwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, mereka itu penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (Al A’raaf 35-36)
Dalam ayat-ayat-Nya tersebut terdapat peringatan Allah bagi manusia agar berhati-hati terhadap Iblis dan syaitan-syaitan pengikut Iblis. Allah SWT berfirman:
Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala. (Faathir 5-6)
Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan, karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu. Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui. (Al Baqarah 168-169)
Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu, dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang Bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong Bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah. (Luqman 33)
Ayat-ayat-Nya dan peringatan-peringatan-Nya di atas merupakan salah satu penjagaan-Nya terhadap manusia. Jika ada orang-orang yang tidak mau membaca ayat-ayat-Nya atau menyombongkan dirinya terhadap ayat-ayat-Nya atau membaca ayat-ayat-Nya tapi mengingkarinya, maka mereka cepat atau lambat akan mendurhakai Allah SWT dan tidak akan menempuh jalan-Nya yang lurus ketika menjalani hidupnya di dunia (melaksanakan amanah sebagai khalifah). Dalam menjalani hidupnya, mereka akan mengikuti jalan-jalan yang diada-adakan oleh Iblis dan syaitan-syaitan, tapi mereka tidak mengetahuinya (tidak menyadarinya). Kesombongannya dan keingkarannya terhadap ayat-ayat-Nya itu yang membuat mereka tidak dijaga (dilidungi) oleh Allah SWT dari kejahatan Iblis dan syaitan-syaitan. Dengan demikian, orang-orang kafir menjadi penghuni neraka adalah karena kesalahannya sendiri, yaitu karena mereka menyombongkan dirinya terhadap ayat-ayat-Nya atau mengingkari ayat-ayat-Nya, dan bukan karena Iblis atau bukan karena syaitan-syaitan pengikut Iblis atau bukan karena Allah SWT mengabulkan permintaan Iblis. Allah SWT menjelaskan hal itu ketika orang-orang kafir dan jin-jin kafir di neraka dalam kehidupan akhirat, yaitu sebagai berikut:
Dan berkatalah syaitan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan: “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan akupun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku, akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamupun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu.” Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih. (Ibrahim 22)
Tilmidzi: “Apakah orang-orang kafir di neraka itu tidak dapat menyalahkan Allah SWT karena Dia telah menjelaskan kepada mereka melalui ayat-ayat-Nya dan Rasul-Rasul-Nya?”
Mudariszi: “Ya! Karena Allah SWT telah menjelaskan semua perkara yang berkaitan dengan Iblis dan syaitan-syaitan, tetapi orang-orang kafir penghuni neraka itu tetap juga mengikuti Iblis dengan mendurhakai perintah-Nya dalam ayat-ayat-Nya dan agama-Nya sehingga itu berarti mereka mendurhakai Allah SWT. Allah SWT berfirman:
Allah berfirman: “Lemparkanlah olehmu berdua ke dalam neraka semua orang yang sangat ingkar dan keras kepala, yang sangat enggan melakukan kebajikan, melanggar batas lagi ragu-ragu, yang menyembah sembahan yang lain beserta Allah, maka lemparkanlah dia ke dalam siksaan yang sangat.” (Syaitan) yang menyertai dia berkata (pula): “Ya Tuhan kami, aku tidak menyesatkannya, tetapi dialah yang berada dalam kesesatan yang jauh.” Allah berfirman: “Janganlah kamu bertengkar di hadapan-Ku, padahal sesungguhnya Aku dahulu telah memberikan ancaman kepadamu. Keputusan di sisi-Ku tidak dapat diubah dan Aku sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Ku.” (Qaaf 24-29)
Dan orang-orang yang berada dalam neraka berkata kepada penjaga-penjaga neraka Jahannam: “Mohonkanlah kepada Tuhanmu supaya Dia meringankan azab dari kami barang sehari.” Penjaga Jahannam berkata: “Dan apakah belum datang kepada kamu Rasul-Rasulmu dengan membawa keterangan-keterangan?” Mereka menjawab: “Benar, sudah datang.” Penjaga-penjaga Jahannam berkata: “Berdo’alah kamu.” Dan do’a orang-orang kafir itu hanyalah sia-sia belaka. (Al Mu’min 49-50)
Jika Allah SWT tidak menjelaskan semua perkara tersebut kepada manusia dalam ayat-ayat-Nya yang Dia turunkan (berikan) kepada manusia melalui Rasul-Rasul-Nya, maka penghuni neraka yang merupakan pengikut-pengikut Iblis itu dapat menyalahkan Allah SWT.”
Tilmidzi: “Bagaimana Iblis dan syaitan-syaitan pengikut Iblis itu menipu manusia hingga mengikuti syaitan (Iblis) atau mendurhakai Allah SWT dan ayat-ayat-Nya?”
Mudariszi: “Rasulullah SAW menjelaskan dalam sunnah beliau ini:
Dari Abu Sa’id al Khudriy, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Setiap orang yang diangkat menjadi khalifah, tentu ia mempunyai dua orang pengiring. Seorang pengiring memerintahkan dan menganjurkan kebajikan kepadanya, dan seorang pengiring lagi memerintahkan dan menganjurkan kejahatan kepadanya. Dan Al Ma’shum adalah orang yang dilindungi Allah.” (HR Bukhari)
Pengiring manusia yang menganjurkan kejahatan (dalam sunnah Rasulullah di atas) adalah syaitan dari golongan jin. Hanya yang ma’shum atau orang yang dilindungi oleh Allah SWT saja yang tidak dapat dihasut (disesatkan) oleh syaitan, contohnya Rasulullah SAW seperti dijelaskan dalam sunnah beliau ini:
Dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Setiap orang di antara kalian pasti ada penyertanya berupa jin.” Para sahabat bertanya: “Engkau juga, Ya Rasulullah?” Rasulullah SAW menjawab: “Aku juga. Hanya saja Allah menolongku, sehingga aku selamat (dari kejahatan dan gangguannya). Dia hanya menyuruhku berbuat kebaikan.” (HR Muslim)
Iblis dan pengikut-pengikutnya atau syaitan-syaitan dari golongan jin dan dari golongan manusia menyesatkan (menipu) manusia dengan memberikan janji-janji (angan-angan) yang manis-manis dan janji-janji yang menakutkan. Allah SWT berfirman:
Syaitan itu memberi janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal syaitan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka. (An Nisaa’ 120)
Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir). (Al Baqarah 268)
Syaitan membisikkan janji-janjinya itu ke dalam hati manusia hingga janji-janji itu terasa bagus (indah) di hati manusia. Allah SWT berfirman:
Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia. (An Naas 4-5)
Syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). (Al An’aam 112)
Penjelasan di atas menunjukkan bahwa Iblis dan syaitan-syaitan menyesatkan manusia hanya dengan bisikan-bisikannya ke hati manusia. Hanya dengan bisikan-bisikannya, syaitan lalu membuat sebagian manusia mendurhakai ayat-ayat-Nya (perintah-Nya) atau mendurhakai Allah SWT. Padahal bisikan-bisikan Iblis atau syaitan itu tidak nyata dan tidak ada bukti apapun, berbeda dengan ayat-ayat-Nya yang jelas nyata dan terbukti dari Allah SWT.”
Tilmidzi: “Jika demikian, apakah Allah SWT mengabulkan permintaan Iblis agar menangguhkan kematiannya itu karena Dia juga berkehendak membuktikan orang-orang yang seperti Iblis yang sudah diketahui-Nya?”
Mudariszi: “Iblis meminta penangguhan kematiannya agar dapat menyesatkan manusia hingga kiamat, dan Allah SWT mengabulkannya. Pengabulan-Nya itu lalu menjadikan adanya orang-orang yang mengikuti Allah SWT atau beriman kepada-Nya, dan ada orang-orang yang mengikuti Iblis atau kafir kepada-Nya. Orang-orang yang beriman atau yang kafir itu akan diketahuinya pada hari kiamat. Orang-orang yang mengikuti Allah SWT beriman kepada kehidupan akhirat, yaitu kehidupan yang ketika itu perbuatan manusia di dunia dihisab-Nya dan dibalas-Nya; sedangkan orang-orang kafir yang mengikuti Iblis tidak beriman atau ragu-ragu kepada kehidupan akhirat karena mereka tidak mengetahuinya akibat dari kesombongannya dan keingkarannya terhadap ayat-ayat-Nya. Adanya orang-orang kafir yang akan menjadi penghuni neraka bersama-sama dengan Iblis, menunjukkan anggapan Iblis adalah benar, yaitu manusia tidak lebih baik daripadanya, atau api lebih baik daripada tanah. Allah SWT berfirman:
Dan sesungguhnya Iblis telah dapat membuktikan kebenaran sangkaannya terhadap mereka lalu mereka mengikutinya, kecuali sebahagian orang-orang yang beriman. Dan tidak adalah kekuasaan Iblis terhadap mereka, melainkan hanyalah agar Kami dapat membedakan siapa yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat dari siapa yang ragu-ragu tentang itu. Dan Tuhanmu Maha Memelihara segala sesuatu. (Saba’ 20-21)
Tapi Allah SWT juga membuktikan kebenarannya yaitu orang-orang yang bersedekah dengan tangan kanannya tanpa diketahui oleh tangan kirinya (atau orang-orang beriman) itu lebih baik daripada semua ciptaan-Nya termasuk daripada Iblis atau api, seperti yang dijelaskan dalam sunnah Rasulullah ini:
Dari Anas bin Malik dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Ketika Allah menciptakan langit dan bumi, maka ia bergerak, lalu Dia menciptakan gunung, kemudian Dia berfirman: “Tetaplah kamu di atasnya.” Lalu bumi tetap (tidak bergerak), kemudian malaikat-malaikat kagum terhadap hebatnya gunung, lalu mereka berkata: “Apakah dalam ciptaan-Mu ada yang lebih hebat daripada gunung?” Allah berfirman: “Ya, ia adalah besi.” Lalu mereka berkata: “Wahai Tuhan, apakah dalam ciptaan-Mu ada yang lebih hebat daripada besi?” Allah berfirman: “Ya, api.” Mereka berkata: “Apakah dalam ciptaan-Mu ada yang lebih hebat daripada api?” Allah berfirman: “Ya, air.” Mereka berkata: “Apakah dalam ciptaan-Mu ada yang lebih hebat daripada air?” Allah berfirman: “Ya, angin.” Mereka bertanya: “Apakah dalam ciptaan-Mu ada yang lebih baik daripada angin?” Dia berfirman: “Ya, ia adalah anak Adam yang bersedekah dengan tangan kanannya yang ia rahasiakan dengan tangan kirinya.” (HR Tirmidzi)
Penjelasan di atas menunjukkan bahwa pengabulan Allah terhadap permintaan Iblis itu merupakan pembuktian adanya orang-orang yang tidak berbeda dengan Iblis, yaitu orang-orang yang sombong dan durhaka kepada Allah SWT. Allah SWT telah mengetahui orang-orang kafir tersebut seperti Dia mengetahui Iblis yang sombong dan durhaka kepada-Nya. Tapi tidak seperti Iblis yang dibuktikan langsung kesombongan dan keingkarannya kepada Allah SWT pada waktu penciptaan Nabi Adam (manusia), orang-orang kafir dibuktikan kesombongan dan keingkarannya pada waktu di akhirat ketika perbuatan manusia di dunia dihisab-Nya dan dibalas-Nya. Sehingga pada waktu manusia melaksanakan amanah sebagai khalifah di bumi (atau menjalani hidupnya di dunia), maka tidak ada seorangpun yang mengetahui akan menjadi penghuni neraka atau penghuni surga. Dengan demikian, disamping untuk menjelaskan kepada manusia agar berhati-hati terhadap Iblis ketika menjalani hidupnya di dunia, pengabulan-Nya terhadap permintaan Iblis itu untuk membuktikan adanya orang-orang yang sombong dan durhaka kepada Allah SWT seperti Iblis.”
Tilmidzi: “Dimanakah Iblis itu bertempat tinggal?”
Mudariszi: “Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Jabir, ia berkata: “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya singgasana Iblis itu ada di atas lautan. Lalu dia mengerahkan pasukannya untuk mengganggu manusia. Yang paling hebat di antara mereka menurutnya adalah yang paling hebat fitnah (gangguan)nya.” (HR Muslim)
Wallahu a’lam.