Dialog Seri 5: 5
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT menumbuhkan manusia di dunia berdasarkan tingkatan?”
Mudariszi: “Allah SWT menjadikan manusia dalam rahim Ibu menurut tahapan (tingkatan). Allah SWT berfirman:
Dia menjadikan kamu dalam perut Ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan. Yang (berbuat) demikian itu adalah Allah, Tuhan kamu. (Az Zumar 6)
Ketika lahir ke dunia, manusia ditumbuhkan oleh Allah SWT menurut tingkatan pula. Tingkat petumbuhan manusia itu seiring dengan perjalanan hidupnya. Allah SWT berfirman:
Padahal Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian. (Nuh 14)
Sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan). (Al Insyiqaaq 19)
Sudah menjadi ketetapan-Nya, yaitu tidak ada manusia yang lahir ke dunia langsung dewasa atau tua. Tingkat pertumbuhan manusia dapat dilihat dari pertumbuhan tubuhnya (fisiknya) yang dimulai dari bayi yang lemah dan tidak mengetahui apapun, lalu menjadi anak-anak, hingga kemudian menjadi muda dan dewasa dengan tubuh dan daya pikir yang baik (matang). Setelah itu Allah SWT membuat manusia menjadi tua dengan tubuh dan daya pikirnya kembali melemah. Manusia yang sudah tua dan lemah itu lalu akan mati, meskipun ada juga manusia yang mati di masa bayi atau di masa anak-anak atau di masa muda atau dewasa. Allah SWT berfirman:
Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes air mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (Kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami(nya). (Al Mu’min 67)
Allah, Dia-lah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. (Ar Ruum 54)
Di antara manusia yang tua itu, ada yang dipanjangkan umurnya hingga tubuh dan daya fikirnya sangat lemah (pikun) serta rambutnya beruban. Dan setelah itu Allah SWT mematikannya. Allah SWT berfirman:
Kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. (Al Hajj 5)
Allah menciptakan kamu, kemudian mewafatkan kamu; dan di antara kamu ada yang dikembalikan kepada umur yang paling lemah (pikun), supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang pernah diketahuinya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa. (An Nahl 70)
Dengan demikian, Allah SWT menjadikan manusia hidup di dunia berdasarkan tingkatan (tahapan).”
Tilmidzi: “Bagaimana Allah SWT menumbuhkan (membesarkan) manusia di dunia?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan melalui firman-Nya ini:
Dan tidaklah Kami jadikan mereka tubuh-tubuh yang tiada memakan makanan, dan tidak (pula) mereka itu orang-orang yang kekal. (Al Anbiyaa’ 8)
Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa manusia memerlukan makanan agar dapat hidup. Makanan yang masuk ke tubuh manusia itu juga untuk menumbuhkannya. Makanan manusia itu dijadikan oleh Allah SWT tersedia di bumi. Allah SWT berfirman:
Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu. (Al Baqarah 29)
Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi itu (sumber) penghidupan. (Al A’raaf 10)
Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup. (Al Hijr 20)
Contoh makanan dan minuman yang disediakan oleh Allah SWT di bumi untuk manusia itu sebagai berikut:
Dan Kami beri minum kamu dengan air yang tawar. (Al Mursalaat 27)
Dan tiada sama (antara) dua laut; yang ini tawar, segar, sedap diminum dan yang lain asin lagi pahit. Dan dari masing-masing laut itu kamu dapat memakan daging yang segar dan kamu dapat mengeluarkan perhiasan yang dapat kamu memakainya, dan pada masing-masingnya kamu lihat kapal-kapal berlayar membelah laut supaya kamu dapat mencari karunia-Nya dan supaya kamu bersyukur. (Faathir 12)
Dan Dia telah menciptakan binatang ternak untuk kamu; padanya ada (bulu) yang menghangatkan dan berbagai-bagai manfaat, dan sebahagiannya kamu makan. Dan kamu memperoleh pandangan yang indah padanya, ketika kamu membawanya kembali ke kandang dan ketika kamu melepaskannya ke tempat penggembalaan. Dan ia memikul beban-bebanmu ke suatu negeri yang kamu tidak sanggup sampai kepadanya, melainkan dengan kesukaran-kesukaran (yang memayahkan) diri. (An Nahl 5-7)
Dan Dia-lah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon kurma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya), dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan dikeluarkan zakatnya); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (Al An’aam 141)
Pertumbuhan manusia itu tdak saja dari makanan yang masuk ke dalam tubuhnya, tapi juga dari lingkungan tempat tinggalnya. Karena itu Allah SWT menjadikan kebutuhan hidup manusia itu di bumi, contohnya seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Dan Allah menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal dan Dia menjadikan bagi kamu rumah-rumah (kemah-kemah) dari kulit binatang ternak yang kamu merasa ringan (membawa)nya di waktu kamu berjalan dan waktu kamu bermukim dan (dijadikan-Nya pula) dari bulu domba, bulu unta dan bulu kambing, alat-alat rumah tangga dan perhiasan (yang kamu pakai) sampai waktu (tertentu). Dan Allah menjadikan bagimu tempat bernaung dari apa yang telah Dia ciptakan, dan Dia jadikan bagimu tempat-tempat tinggal di gunung-gunung, dan Dia jadikan bagimu pakaian yang memeliharamu dari panas dan pakaian (baju besi) yang memelihara kamu dalam peperangan. Demikianlah Allah menyempurnakan nikmat-Nya atasmu agar kamu berserah diri (kepada-Nya). (An Nahl 80-81)
Tilmidzi: “Apakah semua karunia-Nya di bumi itu dapat dimakan dan digunakan oleh manusia?”
Mudariszi: “Hanya karunia-Nya di bumi yang halal dan baik saja yang dapat dimakan dan digunakan oleh manusia. Allah SWT berfirman:
Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan, karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu. (Al Baqarah 168)
Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah. (Al Baqarah 172)
Selain itu, manusia diingatkan-Nya agar tidak berlebih-lebihan dalam memakan dan menggunakan kebutuhannya yang halal dan baik itu, karena perbuatan berlebih-lebihan atau melampaui batas dapat merusak dirinya. Allah SWT berfirman:
Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (Al A’raaf 31)
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya. (Al Maa-idah 87-88)
Makanan yang masuk ke dalam tubuh manusia berpengaruh kepada tingkat pertumbuhan tubuh manusia, daya fikirnya dan perbuatannya dalam menggunakan kebutuhan hidupnya ketika menjalani hidupnya. Makanan yang masuk ke dalam tubuh manusia berpengaruh kepada sel-sel dan organ-orang dalam tubuh yang yang berfungsi menumbuhkan manusia. Sel-sel dan organ-organ itu merupakan makhluk-makhluk ciptaan-Nya yang bekerja dalam tubuh manusia menurut peraturan (sistem) yang Dia tetapkan. Karena bekerja menurut peraturan-Nya, sel-sel dan organ-organ itu suka menerima makanan yang halal dan baik. Itu menunjukkan, halal haramnya dan banyak sedikitnya makanan yang masuk ke dalam tubuh manusia berpengaruh kepada kerja dan pertumbuhan sel-sel dan organ-organ dalam tubuh, sehingga berakibat pula kepada pertumbuhan tubuhnya, daya fikirnya dan perbuatannya dalam menjalani hidupnya. Allah SWT memperingatkan manusia atas perbuatannya melalui firman-Nya ini:
Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (Al Baqarah 195)
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT mematikan manusia?”
Mudariszi: “Ya! Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Allah menciptakan kamu, kemudian mewafatkan kamu. (An Nahl 70)
Manusia boleh mengatakan dapat mematikan manusia dengan membunuhnya, tapi dia tidak dapat mencabut nyawa orang yang dibunuhnya itu. Hanya Allah SWT saja yang dapat mencabut nyawa manusia, sehingga pembunuh itu tidak mengetahui manusia yang dibunuhnya telah mati. Dengan demikian, pembunuh manusia itu bukan mematikannya, tapi hanya membunuhnya. Hanya Allah SWT saja yang mengetahui ajal (kematian) manusia karena Dia yang menetapkan waktu ajalnya. Allah SWT berfirman:
Dia-lah Yang menciptakan kamu dari tanah, sesudah itu ditentukan ajal (kematianmu). (Al An’aam 2)
Dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seseorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah mudah. (Faathir 11)
Dan hanya Allah SWT saja yang mengetahui tempat ajal manusia. Allah SWT berfirman:
Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (Luqman 34)
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT menguburkan orang mati ke dalam tanah?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan melalui firman-Nya ini:
Kemudian Dia mematikannya dan memasukkannya ke dalam kubur. (‘Abasa 21)
Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa manusia yang telah mati diperintahkan-Nya untuk dikubur (dimasukkan) ke dalam tanah. Hal itu dijelaskan pula melalui firman-Nya ini:
Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana dia seharusnya menguburkan mayat saudaranya. (Al Maa-idah 31)
Tujuan manusia harus menguburkan (memasukkan) orang mati ke dalam tanah, karena Allah SWT berfirman:
Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu. (Thaahaa 55)
Wallahu a’lam.