Dialog Seri 5: 7
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT telah menciptakan manusia sebelum dia dilahirkan ke dunia?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan melalui firman-Nya ini:
Dan tidakkah manusia itu memikirkan bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakannya dahulu, sedang ia tidak ada sama sekali? (Maryam 67)
Mengapa kamu kafir kepada Allah padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu. (Al Baqarah 28)
Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa manusia telah diciptakan oleh Allah SWT sebelum manusia itu dilahirkan (dihidupkan) ke dunia.”
Tilmidzi: “Bagaimana manusia itu sebelum dilahirkan-Nya ke dunia?”
Mudariszi: “Rasulullah SAW menjelaskan anak-anak Nabi Adam sebelum dilahirkan ke dunia sebagai berikut:
Dari Abu Hurairah, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Tatkala Allah menciptakan Adam, Allah mengusap punggung Adam, maka rontoklah dari punggung Adam setiap manusia yang Allah Penciptanya dari keturunan Adam sampai hari kiamat dan Allah menciptakan antara kedua mata setiap manusia di antara mereka kilatan cahaya, kemudian Allah memperlihatkan mereka kepada Adam, Adam berkata: “Hai Tuhanku, siapa mereka ini?” Allah berfirman: “Mereka ini adalah keturunanmu.” (HR Tirmidzi)
Keturunan Nabi Adam yang rontok (dalam sunnah Rasulullah di atas) atau anak-anak Nabi Adam (manusia) yang telah diciptakan-Nya sebelum dilahirkan ke dunia itu lalu diambil kesaksiannya ketika akan dilahirkan ke dunia. Allah SWT berfirman:
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (Al A’raaf 172)
Kesaksian jiwa dalam firman-Nya di atas adalah kesaksian manusia (anak-anak Nabi Adam) yang akan dilahirkan ke dunia. Dengan demikian, manusia yang telah diciptakan-Nya sebelum dilahirkan ke dunia itu adalah jiwa.”
Tilmidzi: “Lalu bagaimana jiwa dapat menjadi manusia yang lahir ke dunia?”
Mudariszi: “Jiwa yang telah diambil kesaksiannya oleh Allah SWT itu lalu dikeluarkan-Nya sebagai berikut:
Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan? Dia diciptakan dari air yang terpancar, yang keluar dari antara tulang sulbi dan tulang dada. (Ath Thaariq 5-7)
Air yang terpancar dalam firman-Nya di atas adalah air mani laki-laki. Melalui perkawinan laki-laki dan perempuan, air mani laki-laki yang keluar dari antara tulang sulbi dan tulang dada itu jatuh di rahim perempuan. Allah SWT berfirman:
Bukankah dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim). (Al Qiyaamah 37)
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur. (Al Insaan 2)
Jika terjadi pembuahan dalam rahim, maka itu menunjukkan jiwa telah berada dalam rahim dan jiwa itu dikehendaki oleh Allah SWT untuk menjadi manusia.”
Tilmidzi: “Bagaimana Allah SWT menciptakan jiwa itu hidup menjadi manusia?”
Mudariszi: “Allah SWT menciptakan jiwa itu hidup menjadi manusia dengan Dia meniupkan roh ciptaan-Nya ke tubuh jiwa. Contoh, Allah SWT meniupkan roh ciptaan-Nya ke tubuh Nabi Adam setelah disempurnakan-Nya hingga beliau menjadi hidup. Allah SWT berfirman:
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiaannya dan telah meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.” Maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama. (Al Hijr 28-30)
Sujudnya para malaikat kepada Nabi Adam mengikuti perintah-Nya (dalam firman-Nya di atas) menunjukkan Nabi Adam hidup setelah ditiupkan roh ciptaan-Nya ke tubuhnya. Hidupnya Nabi Adam dengan adanya roh ciptaan-Nya di tubuh beliau dibuktikan pula dengan pembicaraan beliau dengan para malaikat. Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Abu Hurairah dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Allah menciptakan Adam tingginya 60 hasta, kemudian Dia berfirman: “Pergilah dan berilah salam kepada malaikat-malaikat itu dan dengarkanlah apa yang mereka hormatkan kepadamu. Itulah penghormatanmu dan penghormatan keturunanmu.” (HR Bukhari)
Demikian pula dengan jiwa hasil dari perkawinan laki-laki dan perempuan. Selama dalam rahim, jiwa itu dibentuk tubuhnya dengan daging, tulang dan dibungkus lagi dengan daging hingga sempurna bentuk tubuhnya menurut yang Dia tetapkan. Setelah bentuk tubuh disempurnakan, Allah SWT lalu meniupkan roh ciptaan-Nya ke tubuh jiwa dalam rahim itu melalui malaikat utusan-Nya. Allah SWT berfirman:
Dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani). Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh)nya roh (ciptaan)-Nya. (As Sajdah 7-9)
Maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari roh (ciptaan) Kami. (At Tahriim 12)
Roh ciptaan-Nya yang ditiupkan ke tubuh jiwa dalam rahim itu lalu menyatu dengan tubuh jiwa, seperti menyatunya roh ciptaan-Nya dengan tubuh Nabi Adam ketika ditiupkan ke tubuh Nabi Adam.”
Tilmidzi: “Kapan Allah SWT meniupkan roh ciptaan-Nya ke tubuh jiwa dalam rahim?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan melalui firman-Nya ini:
Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya). (Asy Syams 7)
Setelah tubuh jiwa dalam rahim disempurnakan, Allah SWT lalu meniupkan roh ciptaan-Nya (melalui malaikat utusan-Nya) ke tubuh jiwa. Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Abdullah (ibnu Mas’ud), dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya seorang dari kamu penciptaannya dikumpulkan dalam perut Ibunya selama empat puluh hari. Kemudian menjadi segumpal darah seperti itu empat puluh hari. Kemudian menjadi sepotong daging seperti itu empat puluh hari. Kemudian (sesudah membentuk), Allah mengutus malaikat dan diperintahkan dengan empat kalimat dan dikatakan kepadanya: “Tulislah amalnya, rezkinya, ajalnya dan celaka atau bahagia”, kemudian ditiupkan roh kepadanya.“ (HR Bukhari)
Jumlah hari dalam sunnah Rasulullah di atas dapat menjadi perkiraan waktu roh ciptaan-Nya ditiupkan oleh Allah SWT ke tubuh jiwa dalam rahim.”
Tilmidzi: “Apakah roh ciptaan-Nya itu?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (Al Israa’ 85)
Berdasarkan firman-Nya di atas, maka manusia tidak perlu lagi untuk mengetahui lebih jauh tentang roh ciptaan-Nya karena perkara itu merupakan urusan-Nya.”
Tilmidzi: “Apakah yang terjadi dengan jiwa dalam rahim setelah roh ciptaan-Nya berada di tubuh jiwa tersebut?”
Mudariszi: “Hidupnya jiwa dalam rahim karena adanya roh ciptaan-Nya di tubuh jiwa itu ditandai dengan berdetaknya (bergeraknya) organ jantung jiwa. Itu menunjukkan organ jantung hidup dan bekerja. Jika organ jantung hidup dan bekerja, maka organ-organ pada tubuh jiwa lainnya juga hidup dan bekerja menurut fungsinya masing-masing. Semua organ pada tubuh jiwa itu merupakan makhluk-makhluk ciptaan-Nya yang hidup dan tumbuh menurut bentuk dan ukuran yang Dia tetapkan dalam waktu yang Dia tetapkan pula. Bekerjanya semua organ pada jiwa itu berakibat kepada pertumbuhan tubuh jiwa dalam rahim menurut bentuk yang Dia tetapkan dan dalam waktu yang Dia tetapkan. Allah SWT berfirman:
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. (Al Mu’minuun 12-14)
Allah SWT lalu menjadikan jiwa dalam rahim itu memiliki organ-organ ini:
Dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati. (As Sajdah 9)
Organ-organ pendengaran, penglihatan dan hati juga menyatu dengan tubuh jiwa dalam rahim, dan ketiga organ itu juga hidup, tumbuh dan bekerja karena adanya roh ciptaan-Nya di tubuh jiwa. Dengan demikian, adanya roh ciptaan-Nya di tubuh jiwa dalam rahim membuat jiwa dan semua organ pada tubuh jiwa menjadi hidup dan tumbuh serta bekerja menurut fungsinya (tugasnya) masing-masing.”
Tilmidzi: “Apakah roh ciptaan-Nya tetap bersama jiwa ketika jiwa itu keluar dari rahim lahir ke dunia?”
Mudariszi: “Roh ciptaan-Nya ikut keluar bersama jiwa ketika jiwa keluar dari rahim lahir ke dunia, karena roh ciptaan-Nya telah menyatu dengan jiwa. Setelah jiwa dalam rahim dan semua organ pada tubuh jiwa itu tumbuh menurut bentuk dan ukuran yang Dia tetapkan, maka pada waktu yang Dia tetapkan, jiwa itu keluar dari rahim lahir ke dunia sebagai manusia berbentuk bayi. Ketika lahir ke dunia, jiwa dengan roh ciptaan-Nya dan semua organ pada tubuh jiwa tidak terlihat karena tetutup oleh tubuh jiwa yang memiliki kulit. Bentuk tubuh jiwa yang terlihat atau yang menutup jiwa, roh ciptaan-Nya dan semua organ pada tubuh jiwa itu terdiri dari kepala, badan, tangan dan kaki. Bentuk tubuh jiwa yang terlihat itu sudah terbentuk (tumbuh) sejak dalam rahim seiring dengan pertumbuhan semua organ pada jiwa. Jiwa dengan tubuh yang berbentuk dan tertutup kulit itulah manusia yang tidak mengetahui apapun ketika lahir ke dunia sebagai bayi. Allah SWT berfirman:
Dan Kami tetapkan dalam rahim apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi. (Al Hajj 5)
Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut Ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun. (An Nahl 78)
Tilmidzi: “Bagaimana bayi yang lahir ke dunia itu dapat membesar hingga dewasa?”
Mudariszi: “Karena dalam tubuh bayi (manusia) yang lahir ke dunia itu ada jiwa dengan roh ciptaan-Nya, maka roh ciptaan-Nya itu menjadikan semua organ pada tubuh jiwa tumbuh membesar menurut bentuk dan ukuran yang Dia tetapkan dan dalam waktu yang Dia tetapkan. Pertumbuhan tubuh jiwa dan semua organ pada tubuh jiwa itu terlihat dari pertumbuhan tubuh manusia yang membesar, kuat, dewasa (matang). Allah SWT berfirman:
Kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan. (Al Hajj 5)
Allah, Dia-lah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat. (Ar Ruum 54)
Kedewasaan dalam firman-Nya di atas itu termasuk kedewasaan (kematangan) dalam berfikir yang berkembang (matang) seiring dengan pertumbuhan semua organ pada jiwa dan perjalanan hidup jiwa di dunia. Contoh matang dalam berfikir itu seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. (An Nisaa’ 6)
Dan setelah Musa cukup umur dan sempurna akalnya, Kami berikan kepadanya hikmah (kenabian) dan pengetahuan. (Al Qashash 14)
Setiap orang (manusia), baik ketika dilahirkan ke dunia ataupun telah dewasa, memiliki berat (bobot) karena dia memiliki tubuh yang berbobot. Tetapi, dalam keadaan apapun, dia tidak merasakan berat tubuhnya itu, padahal dia mengetahui tubuhnya berbobot. Jika dia tidak juga merasakan berat tubuhnya, maka yang merasakan tubuhnya tidak berbobot itu bukanlah orang itu, tapi jiwanya. Sehingga itu menunjukkan bahwa jiwa itulah manusia (orang) yang sebenarnya, yang tidak terlihat karena tertutup oleh tubuhnya.”
Tilmidzi: “Jika manusia itu jiwa, apakah perbuatan manusia ketika menjalani hidupnya di dunia itu merupakan perbuatan jiwa?”
Mudariszi: “Ya! Perbuatan manusia ketika menjalani hidupnya di dunia itu merupakan perbuatan jiwa. Manusia adalah jiwa yang bertubuh. Manusia itu jiwa yang bertubuh dengan roh ciptaan-Nya dan semua organ pada tubuh jiwa yang terdiri dari organ-organ yang ada di bagian kepala, di badan, di tangan, di kaki, dan organ-organ yang dibatasi-Nya yaitu penglihatan, pendengaran, hati, akal, suara. Roh ciptaan-Nya, tubuh yang berkulit dan semua organ pada tubuh itu merupakan pemberian-Nya kepada jiwa untuk berfikir, berkeinginan dan berbuat ketika menjalani hidupnya di dunia. Tubuh dan semua organ pada tubuh itu merupakan alat-alat bagi jiwa dalam membentuk dan membuat dirinya menjadi baik atau buruk menurut Allah SWT atau agama-Nya ketika jiwa menjalani hidupnya di dunia. Baik buruknya jiwa yang tidak terlihat itu diketahui dari baik buruknya akhlak dan perilaku manusia yang terlihat. Manusia itu bentuk nyata dari jiwa, dan manusia itu dapat menjadi pelajaran bagi jiwa atau manusia lainnya karena manusia itu terlihat. Karena itulah Allah SWT memberikan ilham kepada jiwa dan bukan kepada manusia, seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. (Asy Syams 8)
Allah SWT memberikan ilham kepada jiwa (dalam firman-Nya di atas) melalui hatinya setelah Dia mengetahui perbuatannya dan keinginannya yang sebenarnya. Ilham-Nya itu akan berakibat kepada keinginan dan perbuatan jiwa itu di masa depannya. Contoh, Allah SWT mengilhamkan jalan kefasikan kepada jiwa, yaitu Dia membiarkan orang (jiwa) itu mengikuti bisikan-bisikan syaitan hingga dia berbuat dosa. Allah SWT berfirman:
Tidakkah kamu lihat, bahwasanya Kami telah mengirim syaitan-syaitan itu kepada orang-orang kafir untuk menghasung mereka berbuat maksiat dengan sungguh-sungguh? (Maryam 83)
Seringnya orang itu berbuat dosa akan terlihat dari akhlak dan perilakunya. Perbuatannya yang buruk itu menjadikannya sebagai orang zalim atau fasik atau kafir atau syaitan, yaitu syaitan dari golongan manusia. Karena masuk ke dalam golongan syaitan, maka dia akan menolong syaitan kawan-kawannya hingga dosanya makin bertambah-tambah dan keburukan akhlak dan perilakunya makin terlihat. Allah SWT berfirman:
Dan teman-teman mereka (orang-orang kafir dan fasik) membantu syaitan-syaitan dalam menyesatkan dan mereka tidak henti-hentinya (menyesatkan). (Al A’raaf 202)
Demikian pula dengan jiwa yang diberikan-Nya jalan ketakwaan. Contoh, orang zalim atau fasik atau kafir yang menyadari kesalahannya lalu bertaubat kepada-Nya. Allah SWT yang mengetahuinya lalu memberikan petunjuk kepadanya yaitu kepada jiwanya. Allah SWT berfirman:
Dan kalau Kami menghendaki niscaya Kami akan berikan kepada tiap-tiap jiwa petunjuk (bagi)nya. (As Sajdah 13)
Karena petunjuk-Nya, maka orang yang bertaubat itu akan berbuat mengikuti petunjuk-Nya dan syariat agama-Nya ketika menjalani hidupnya. Iman, akhlak dan perilakunya akan terlihat baik, yang bertolak belakang dengan akhlak dan perilakunya ketika dia kafir atau zalim atau fasik. Allah SWT berfirman:
Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mu’min supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). (Al Fath 4)
Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. (Al Qalam 4)
Karena itu Allah SWT memperingatkan manusia atau jiwa yang bertubuh itu dengan firman-Nya ini:
Atau apakah manusia akan mendapat segala yang dicita-citakannya? (Tidak), maka hanya bagi Allah kehidupan akhirat dan kehidupan dunia. (An Najm 24-25)
Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang mensucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (Asy Syams 9-10)
Tilmidzi: “Bagaimana jika manusia itu mati?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan melalui firman-Nya ini:
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. (Ali ‘Imran 185)
Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa manusia akan mati karena manusia itu adalah jiwa yang bertubuh. Selain itu, manusia juga merupakan jiwa yang bertubuh dan bernyawa, karena pada jiwa terdapat roh ciptaan-Nya, sehingga manusia akan mati. Allah SWT berfirman:
Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. (Ali ‘Imran 145)
Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa setiap manusia akan mati menurut waktu yang Dia tetapkan, dan manusia dimatikan-Nya melalui malaikat utusan-Nya. Allah SWT berfirman:
Hingga bila datang kepada mereka utusan-utusan Kami (malaikat) untuk mengambil nyawanya. (Al A’raaf 37)
Malaikat mencabut nyawanya (dalam firman-Nya di atas), yaitu malaikat mencabut jiwa dan roh ciptaan-Nya keluar dari tubuh jiwa. Setelah jiwa dan roh ciptaan-Nya keluar dari tubuhnya, semua organ jiwa pada tubuh jiwa itu tidak bekerja, sehingga tubuhnya mati tidak bergerak lagi. Itu membuktikan bahwa semua organ pada tubuh jiwa hidup dan bekerja karena adanya roh ciptaan-Nya di tubuh jiwa. Sedangkan organ-organ jiwa yang dibatasi-Nya, yaitu penglihatan, pendengaran, hati, akal, suara, ikut bersama jiwa dan roh ciptaan-Nya keluar dari tubuh jiwa.”
Tilmidzi: “Jika demikian, apakah jiwa itu tetap hidup atau tidak mati dengan matinya manusia?”
Mudariszi: “Manusia mati itu bukan berarti jiwa juga mati. Manusia mati itu adalah keluarnya jiwa dari tubuhnya. Keluarnya jiwa dari tubuhnya bukan berarti jiwa itu mati. Jiwa tetap hidup dengan matinya manusia, dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:
Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati, bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya. (Al Baqarah 154)
Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki. (Ali ‘Imran 169)
Jika orang-orang yang gugur di jalan Allah (dalam firman-Nya di atas) tidak mati, maka orang-orang yang mati tidak di jalan-Nya juga tidak mati, karena keduanya sama-sama manusia atau jiwa yang bertubuh. Dan yang tidak mati itu adalah jiwa yang keluar dari tubuhnya.”
Tilmidzi: “Apakah jiwa mengetahui ketika akan dicabut nyawanya keluar dari tubuhnya dan apakah jiwa mengetahui keadaannya setelah keluar dari tubuhnya?”
Mudariszi: “Ya! Jiwa melihat ketika malaikat akan mencabut nyawanya keluar dari tubuhnya. Allah SWT berfirman:
Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan padahal kamu ketika itu melihat, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada kamu tetapi kamu tidak melihat. Maka mengapa, jika kamu tidak dikuasai (oleh Allah), kamu tidak mengembalikan nyawa itu (kepada tempatnya) jika kamu adalah orang-orang yang benar? (Al Waaqi’ah 83-87)
Ketika nyawanya dicabut oleh malaikat, manusia atau jiwa itu tidak dapat berbuat apapun. Jiwa yang telah keluar dari tubuhnya melihat tubuhnya yang ditinggalkannya dan mengetahui keadaannya ketika dibawa oleh malaikat. Hal itu dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:
Dari Abu Sa’id Al Khudriy, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Apabila jenazah diletakkan dan orang-orang mengangkatnya di atas pundak mereka, jika jenazah itu baik, maka ia berkata: “Ajukan saya.” Jika jenazah itu tidak baik, maka ia berkata: “Wahai celakanya, kemanakah kalian pergi dengan membawa jenazah?” Segala sesuatu mendengarnya kecuali manusia. Seandainya ia mendengarnya niscaya ia pingsan.” (HR Bukhari)
Jiwa dapat melihat, mendengar, berfikir, berbicara setelah keluar dari tubuhnya, karena organ penglihatan, pendengaran, hati, akal, suara, ikut bersama jiwa dan roh ciptaan-Nya. Tapi jiwa itu tidak dapat mendengar suara manusia di dunia, dan manusia di dunia tidak dapat membuat orang mati (jiwa yang keluar dari tubuhnya) itu mendengar. Allah SWT berfirman:
Maka sesungguhnya kamu tidak akan sanggup menjadikan orang-orang yang mati itu dapat mendengar. (Ar Ruum 52)
Tilmidzi: “Lalu bagaimana dengan jiwa yang telah keluar dari tubuhnya itu?”
Mudariszi: “Jiwa dari orang yang mati akan dikembalikan kepada Allah SWT Tuhannya. Allah SWT berfirman:
Katakanlah: “Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikan kamu; kemudian hanya kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan.” (As Sajdah 11)
Dengan dikembalikan kepada-Nya, maka Allah SWT memegang dan menguasai jiwa itu. Allah SWT berfirman:
Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya. (Az Zumar 42)
Tubuh orang mati atau tubuh jiwa yang telah ditinggalkannya di bumi itu lalu dikubur (dimasukkan) ke dalam tanah. Allah SWT berfirman:
Kemudian Dia mematikannya dan memasukkannya ke dalam kubur. (‘Abasa 21)
Jiwa yang telah meninggalkan tubuhnya di dunia itu lalu hidup di alam kubur (barzakh) yang bukan kehidupan dunia. Di alam kubur, jiwa tidak dapat mendengar suara manusia di dunia dan manusia di dunia tidak dapat membuat jiwa itu mendengarkan suaranya. Allah SWT berfirman:
Dan kamu sekali-kali tiada sanggup menjadikan orang yang di dalam kubur dapat mendengar. (Faathir 22)
Tilmidzi: “Bagaimana keadaan jiwa dari orang mati di alam kubur?”
Mudariszi: “Di alam kubur jiwa tidak dapat melakukan apapun karena dikuasai oleh Allah SWT. Keadaan jiwa di alam kubur seperti manusia tidur ketika di dunia. Allah SWT berfirman:
Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya. (Az Zumar 42)
Ketika tidur di dunia, manusia dapat bermimpi. Mimpi manusia terjadi karena jiwa yang dikuasai oleh Allah SWT itu dipertemukan dengan sesuatu yang menyenangkannya (mimpi baik) atau menakutkannya (mimpi buruk). Manusia dapat melihat, mendengar dan merasakan mimpinya karena penglihatan, pendengaran, hati, ikut bersama jiwa ketika manusia tidur. Baik buruknya mimpi manusia itu dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:
Dari Abu Qatadah dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Mimpi (yang baik) adalah dari Allah dan mimpi (yang buruk) adalah dari syaitan.” (HR Bukhari)
Keadaan jiwa di alam kubur tidak berbeda dengan manusia tidur dan bermimpi ketika di dunia, yaitu jiwa seringkali dipertemukan oleh Allah SWT dengan sesuatu yang menyenangkannya atau menakutkannya. Allah SWT mempertemukan jiwa itu berdasarkan perbuatannya ketika di dunia. Keadaan jiwa di alam kubur itu dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:
Dari Ibnu Umar, ia berkata sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya apabila seseorang mati, tiap pagi dan sore akan diperlihatkan kepadanya tempatnya kelak; jika termasuk ahli surga, akan diperlihatkan surga; kalau termasuk ahli neraka, akan diperlihatkan neraka, lalu dikatakan: “Ini tempatmu jika Allah membangkitkanmu di hari kiamat.” (HR Muslim)
Jiwa di alam kubur akan tetap dalam keadaan demikian hingga dibangkitkan oleh Allah SWT pada hari kiamat. Karena itu orang-orang yang berdosa atau jiwa-jiwa yang kotor selalu meminta kepada-Nya agar dikembalikan ke dunia supaya dapat beramal shaleh (berbuat kebaikan). Allah SWT berfirman:
(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan.” Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan. (Al Mu’minuun 99-100)
Tilmidzi: “Bagaimana jiwa itu ketika dibangkitkan oleh Allah SWT di hari kiamat?”
Mudariszi: “Pada hari kiamat, Allah SWT menghidupkan (membangkitkan) kembali orang mati dari tulang ekornya (tulang belakang). Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Abu Hurairah, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Lalu Allah menurunkan hujan maka mayat-mayatpun bangun seperti tumbuhnya tanam-tanaman. Tiada satupun bagian tubuh manusia yang utuh kecuali tulang ekornya, dan dari tulang itulah kelak di hari kiamat makhluk dibentuk lagi.” (HR Muslim)
Dari Jabir, ia berkata: “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Setiap hamba dibangkitkan sesuai dengan keadaannya ketika ia mati.” (HR Muslim)
Dengan dihidupkan-Nya kembali orang mati, maka jiwa dari orang mati dengan roh ciptaan-Nya itu kembali menjadi manusia yang hidup setelah dipertemukan dengan tubuhnya yang baru. Allah SWT berfirman:
Dan apabila roh-roh dipertemukan (dengan tubuh). (At Takwiir 7)
Tujuan Allah SWT menghidupkan kembali orang mati pada hari kiamat menjadi manusia, yaitu untuk menghisab amal perbuatannya selama di dunia. Ketika itu, manusia atau jiwa-jiwa yang bertubuh itu mengetahui apa yang telah dikerjakannya selama di dunia. Allah SWT berfirman:
Apabila langit terbelah, dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan, dan apabila lautan dijadikan meluap, dan apabila kuburan-kuburan dibongkar, maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikannya. (Al Infithaar 1-5)
Dan apabila catatan-catatan (amal perbuatan manusia) dibuka, dan apabila langit dilenyapkan, dan apabila neraka Jahim dinyalakan, dan apabila surga didekatkan, maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakannya. (At Takwiir 10-14)
Setelah perbuatan jiwa di dunia dihisab-Nya, jiwa akan menerima balasan daripada-Nya. Allah SWT berfirman:
Pada hari ini tiap-tiap jiwa diberi balasan dengan apa yang diusahakannya. Tidak ada yang dirugikan pada hari ini. Sesungguhnya Allah amat cepat hisab-Nya. (Al Mu’min 17)
Dan disempurnakan bagi tiap-tiap jiwa (balasan) apa yang telah dikerjakannya dan Dia lebih mengetahui apa yang mereka kerjakan. (Az Zumar 70)
Jiwa menjadi manusia yang hidup dan merasakan kehidupan di dunia dan di akhirat karena jiwa diberikan tubuh yang berkulit oleh Allah SWT. Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. (An Nisaa’ 56)
Orang-orang kafir yang hidup di neraka (dalam firman-Nya di atas) dalam kehidupan akhirat itu merupakan sebagian dari manusia atau jiwa-jiwa yang bertubuh yang sudah ada atau sudah diciptakan-Nya sebelum dilahirkan ke dunia (atau ke dalam kehidupan dunia). Jiwa tidak pernah mati setelah diciptakan-Nya, tapi manusia, yaitu jiwa yang bertubuh, yang mati karena peralihan kehidupan bagi jiwa. Allah SWT berfirman:
Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan? (Al Baqarah 28)
Sedangkan sebagian lagi manusia atau jiwa-jiwa yang bertubuh itu hidup di surga dalam kehidupan akhirat, setelah bersama-sama dengan orang-orang kafir menjalani hidup di dunia atau dalam kehidupan dunia. Tidak ada tempat ketiga bagi manusia atau jiwa-jiwa yang bertubuh dalam kehidupan akhirat.”
Wallahu a’lam.